efek

Kamis, 24 Maret 2011

Cinta Dunia adalah Karunia dari Allah

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali-Imran [3] : 14)

Makna Ayat
Ayat ini menjelaskan tentang adanya syahwat (kecenderungan) manusia terhadap pesona dunia. Atas kehendak Sang Pencipta, manusia terlahir dengan dibekali syahwat dan ketertarikan kepada beberapa hal di dunia ini. Tentunya, penyebutan ini tak bermaksud untuk menafikan kecenderungan tersebut. Justru ia adalah karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang patut disyukuri. Sebab, ketertarikan tersebut adalah sesuatu yang fitrah dalam kehidupan manusia.

Dari sekian banyak kecenderungan manusia, daya tarik terhadap perempuan rupanya menempati urutan pertama. Ini sebagai pelajaran bagi kita semua. Betapa peran seorang wanita sangatlah vital dalam kehidupan ini. Ibarat dua sisi mata uang, wanita bisa menjadi tiang yang kokoh menyangga peran laki-laki. Sebaliknya, pesona wanita juga bisa menjadi biang dari segala permasalahan yang ada. Dalam sebuah Hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan, “Tidaklah saya tinggalkan fitnah yang paling berbahaya setelahku kecuali persoalan wanita.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Demikian pula pada kecintaan manusia terhadap anak dan keturunan. Ketika hal tersebut tak memalingkan dari ibadah kepada Allah Ta’ala, niscaya ia menjadi suatu hal yang terpuji. Di antara para nabi bahkan ada yang melantunkan doa khusus mengharapkan keturunan. Sebagaimana yang Allah sebutkan dalam firman-Nya, ketika Nabi Zakariyya alaihissalam memohon: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (Ali-Imran [3]:38).

Namun, jika kecintaan tersebut menjadikan saling berbangga dengan keturunannya, serta lalai kepada Allah, niscaya hal tersebut justru mendatangkan murka Allah. Hal yang sama berlaku terhadap kecenderungan dan kecintaan manusia lainnya. Ia boleh menjadi faktor yang mendekatkan diri kepada Allah. Atau sebaliknya, menjadi sebab datangnya murka Allah kepadanya.

Terbagi Dua Kelompok
Abdurrahman as-Sa’di, dalam kitab tafsirnya Taisir Karim ar-Rahman fi Kalam al-Mannan menjelaskan, manusia terbagi menjadi dua kelompok terkait dengan adanya kecintaan mereka terhadap pesona dunia. Pertama, mereka yang menjadikan dunia beserta segala isinya sebagai tujuan utama hidup mereka. Alhasil, layaknya sebuah cita-cita yang harus diraih. Mereka siap berkorban apa saja demi tercapainya harapan tersebut. Seluruh waktu, pikiran, tenaga, dan bahkan harta dihabiskan demi menggapai apa yang mereka cita-citakan.
Manusia seperti itu lupa tujuan hidupnya. Mereka tak lagi ingat jika kelak akan kembali dan mempertanggungjawabkan segala yang mereka perbuat di dunia.

Alhasil, tanpa disadari, gaya hidup mereka, tak ubahnya makhluk ciptaan Allah yang lain. Di dalam surah Muhammad [47] ayat 12, Allah menyindir kelompok tersebut dengan menyerupakan mereka dengan binatang, yang hanya tahu makan dan bersenang-senang saja. Tanpa ada orientasi dan tujuan hidup yang jelas. Boro-boro mengurus dakwah dan agama ini, kadang urusan keluarga sampai terlupakan akibat terlena dengan ambisi duniawi. Manusia lupa akan hakikat dari penciptaan mereka di dunia. Bahwasanya kehidupan ini hanyalah persinggahan untuk menuju halte kehidupan berikutnya.

Kelompok kedua –menurut murid Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah ini- adalah manusia yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya. Segala daya tarik di dunia ini tak menjadikan mereka berpaling dari tujuan sebenarnya.
Sikap semacam itu tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Perjalanan panjang di dunia ini tentu tak cukup dengan bekal semangat dan keyakinan saja. Ia butuh bermacam hal sebagai bekal yang perlu disiapkan. Salah satunya adalah merawat kesadaran hati dan niat. Kejernihan hati berbanding lurus dengan sebuah amalan. Dengan hati yang bersih, seseorang mampu menjaga sikap dan perbuatannya.

Ibnul Jauzy, pernah mengingatkan untuk berhati-hati dalam urusan daya tarik duniawi tersebut. Sebab, hanya tersisa celah yang sangat kecil untuk membedakan antara kecenderungan yang didasari fitrah manusia dengan kesenangan yang berdasar dari hawa nafsu. Ibnul Jauzy lalu mengibaratkan nafsu tersebut dengan air. Di mana-mana sifat air cenderung memilih dan mendatangi tempat yang lebih rendah. Sama halnya dengan nafsu yang seringkali memperturutkan keinginan jiwa yang rendah. Manusia yang terjebak dengan hawa nafsunya, hanya mampu menikmati dan bersenang-senang saja. Ia tak bisa diajak melakukan sesuatu yang lebih besar dan menantang. Sebab, jiwa mereka telah dikekang dan dikendalikan oleh nafsu yang rendah tersebut.
Bahkan tak jarang, apa yang bukan haknya ikut direbut dan dirampas. Maraknya kejahatan yang terjadi di masyarakat menjadi potret yang sangat jelas. Tatanan masyarakat menjadi kacau dan tidak teratur. Masyarakat seolah–olah kehilangan hati nurani. Mereka tak mampu lagi memilih kebaikan yang ada. Kecuali memperturutkan keinginan rendah mereka.

Sikap Orang Beriman
Dalam urusan daya tarik dunia, sangat menarik jika mencermati sikap orang-orang mukmin. Sebab, mereka juga tetap menikmati kenikmatan dan fasilitas duniawi ini. Orang-orang yang beriman menganggap kecenderungan ini sebagai karunia dari Allah yang patut disyukuri dan disebarkan. Namun ternyata, mereka tak sebatas bersenang-senang dengan kenikmatan dunia. Justru mereka menjadikan fasilitas tersebut sebagai upaya mendekatkan diri kepada Sang Pemberi Nikmat. Alhasil, kebahagiaan di dunia mereka bisa raih. Seiring kebahagiaan di akhirat juga akan terpenuhi sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah Ta’ala.

Di antara para sahabat, kita melihat Abdurrahman bin Auf, seorang konglomerat raksasa ketika itu. Bisnisnya merajai dunia ekonomi di seluruh jazirah Arab. Namun, tak segan ia menginfaqkan separo harta yang ia miliki untuk kepentingan umat Islam.

Di kalangan sahabat, kita juga mengenal kelompok ahlus suffah, para sahabat yang tak punya tempat untuk berteduh kecuali mereka menginap di beranda masjid. Namun, sama sekali tak pernah ada kerisauan di benak mereka. Sebab, mereka telah menyadari apa maksud dari segala kesenangan dan daya tarik di dunia tersebut.

Dengan pemahaman di atas, maka tak lagi ada perbedaan antara si kaya dan si miskin di dunia ini. Sebab, orientasi mereka tidak berbeda dalam menyikapi kesenangan dan kenikmatan dunia. Kecuali sebagai bentuk ujian kesabaran dan keteguhan dalam menjalani kehidupan dunia ini. *Masykur, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah, Balikpapan.

SUMBER

Tidak ada komentar:

Posting Komentar